Pertunjukan Cycle Of Life: Lelana Lumantar Aksa Part 2 akan digelar pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 19.30 WIB di Studio Banjarmili, Yogyakarta. Pertunjukan ini menawarkan perjalanan artistik yang mengangkat kehidupan, ingatan, leluhur, serta hubungan antargenerasi melalui perpaduan musik, tari, tembang Jawa, suara, cahaya, dan elemen visual.
Karya tersebut berangkat dari gagasan bahwa kehidupan manusia merupakan bagian kecil dari kisah yang jauh lebih panjang. Kehidupan seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan generasi yang telah mendahuluinya dan generasi yang akan datang.
Dalam pertunjukan ini, perjalanan manusia dipandang tidak hanya sebagai pengalaman personal. Jejak leluhur menjadi bagian penting dalam pembentukan diri, baik melalui DNA, pikiran, watak, kepribadian, luka yang diwariskan, maupun bakat. Pertanyaan mengenai asal-usul berbagai bagian dalam diri manusia kemudian menjadi salah satu pintu masuk utama dalam karya tersebut.
Cycle Of Life: Lelana Lumantar Aksa Part 2 memadukan gamelan, terompet, harpa, tembang Jawa, eksplorasi suara, tari, tata cahaya, dan elemen visual. Berbagai unsur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pendukung pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari bahasa yang digunakan untuk menyampaikan cerita.
Tembang Macapat juga memiliki posisi penting dalam karya ini. Sejumlah karakter tembang digunakan untuk merepresentasikan tahapan dan pengalaman kehidupan manusia. Di antaranya Maskumambang yang menggambarkan ketidakberdayaan dan kecemasan, Mijil sebagai simbol kelahiran, serta Pangkur yang mengajak manusia mengingat masa lalu dan kembali mendekat kepada Tuhan.
Ruang pertunjukan turut dirancang sebagai bagian dari perjalanan tersebut. Catwalk digunakan sebagai simbol jalan yang dilalui, sementara cahaya, kelambu, bayangan, dan elemen visual lainnya membentuk ruang yang bergerak antara dunia nyata, ingatan, masa lalu, dan kemungkinan masa depan.
Gagasan utama pertunjukan berangkat dari pandangan bahwa manusia tidak benar-benar berdiri sendiri. Setiap kehidupan membawa jejak kehidupan sebelumnya, termasuk tatapan, cinta, pengalaman, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mata menjadi salah satu metafora penting dalam karya ini, digambarkan sebagai jendela menuju dunia tempat batas waktu seolah menghilang. Perjalanan kemudian bergerak mundur menuju percikan cahaya pertama yang memungkinkan manusia untuk saling melihat dan terhubung.
Melalui pendekatan tersebut, penonton tidak hanya ditempatkan sebagai penyaksi pertunjukan. Mereka diajak menelusuri pertanyaan mengenai siapa diri mereka, dari mana mereka berasal, serta bagaimana kisah kehidupan dapat terus berlanjut melalui generasi setelahnya.
Pertunjukan ini melibatkan Eef van Breen Group dari Belanda dan komunitas seni-budaya Yogyakarta, Gayam16. Eef van Breen Group merupakan ansambel musik yang dipimpin komposer, pemain trompet, sekaligus penyanyi Eef van Breen. Grup tersebut beranggotakan musisi dari latar jazz dan klasik dan dikenal melalui eksplorasi musik lintas genre yang memadukan jazz, musik klasik, ambient, serta foley.
Pada 2026, Eef van Breen Group berkolaborasi dengan Gayam16 dalam pertunjukan Lelana Lumantar Aksa. Gayam16 sendiri merupakan komunitas seni dan budaya yang berbasis di Yogyakarta dengan fokus pada pengembangan, pelestarian, dan eksplorasi gamelan.
Gayam16 juga dikenal sebagai penggagas dan penyelenggara Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), festival gamelan internasional yang telah berlangsung sejak 1995. Selain festival, komunitas ini menjalankan program pertunjukan, lokakarya, residensi, pertukaran budaya, pendidikan, serta berbagai kolaborasi lintas disiplin dan negara.
Kolaborasi tersebut mempertemukan tradisi gamelan dengan pendekatan musik kontemporer dan seni lintas budaya. Bagi Gayam16, gamelan tidak hanya dipandang sebagai seperangkat instrumen, tetapi juga sebagai medium kreativitas, dialog, dan hubungan antarmanusia.
Cycle Of Life: Lelana Lumantar Aksa Part 2 akan berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 19.30 WIB di Studio Banjarmili, Yogyakarta. Karya tersebut berbentuk pertunjukan musik, tari, tembang, suara, dan visual. Bagus Ariyanto Seputro Nasution menjadi pimpinan produksi, sementara desain panggung dan artistik dikerjakan Eef Van Breen bersama Bagus Ariyanto Seputro Nasution.
Jajaran musisi yang terlibat antara lain Eef Van Breen, Sudaryanto, Eva Tebbe, Welly Hendratmoko, Ganggeng Yudana, Tredy, dan Satya Gombloh. Sementara itu, penari yang tercantum dalam pertunjukan adalah Putri Raharjo.
Secara keseluruhan, Cycle Of Life: Lelana Lumantar Aksa Part 2 menempatkan kehidupan, leluhur, ingatan, cinta, kehilangan, dan hubungan antargenerasi sebagai inti perjalanan artistiknya. Pertunjukan ini menjadi ruang untuk menelusuri kembali hubungan manusia dengan masa lalu sekaligus melihat bagaimana kisah tersebut dapat terus hidup pada generasi berikutnya.
