Pesta Boneka #10 Hadir di Yogyakarta, Libatkan 193 Seniman dari 24 Negara

Yogyakarta kembali menjadi ruang perjumpaan seniman teater boneka dari berbagai negara melalui gelaran Pesta Boneka #10 yang berlangsung pada 6–11 Oktober 2026. Mengusung tema “Holding Hands”, festival yang digelar Papermoon Puppet Theatre ini melibatkan 33 grup dan 193 seniman dari 24 negara.

Memasuki edisi ke-10, Pesta Boneka menjadi salah satu festival teater boneka independen yang berkembang di kancah internasional. Berawal dari program residensi sederhana pada 2008 bersama seniman dari empat negara, festival dua tahunan ini tumbuh menjadi ruang pertemuan lintas budaya sekaligus salah satu simpul perkembangan teater boneka kontemporer di Asia Tenggara.

Tema “Holding Hands” mengangkat makna kebersamaan, solidaritas, dan pentingnya saling terhubung di tengah dunia yang semakin dipenuhi batas. Pendiri Papermoon Puppet Theatre, Ria Papermoon, menyebut tema ini sebagai kelanjutan dari “Seeds of Hope” yang diusung dua tahun sebelumnya. Menurutnya, harapan yang telah ditanam perlu dirawat bersama, sebagaimana perjalanan Papermoon selama 20 tahun yang tidak lepas dari dukungan banyak pihak.

Salah satu program unggulan tahun ini adalah Puppet Camp Shank’s Mare – Yogyakarta Version, kolaborasi Tom Lee dari Yara Arts Group, Amerika Serikat, dengan maestro teater boneka kuruma ningyo asal Jepang, Koryu Nishikawa V. Program ini melibatkan 16 seniman dari 10 negara untuk bertukar pengetahuan dan menciptakan karya bersama. Pesta Boneka #10 juga menghadirkan HU木AN Indonesia, pertunjukan inklusif hasil kolaborasi The Artground dari Singapura, Sensorium Theatre dari Australia, dan Papermoon Puppet Theatre.

Selain pertunjukan, festival ini turut menghadirkan beragam program publik, mulai dari lokakarya, diskusi, masterclass, pemutaran film boneka Asia, Amerika Latin, Afrika, Iran, dan Palestina, hingga bazar serta program When Puppeteers Cook. Melalui berbagai bentuk penceritaan, Pesta Boneka #10 tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membuka ruang dialog dan pengalaman lintas budaya yang dapat dinikmati tanpa batasan bahasa.

You May Also Like