Program Desa Adaptif Artificial Intelligence (DESAI) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil melahirkan 46 karya digital hasil kreasi para pamong kalurahan. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi digital aparatur desa sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pelayanan publik dan pengembangan potensi desa.
Program DESAI merupakan kolaborasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), STP AMPTA Yogyakarta, dan Paguyuban Kalurahan DIY Nayantaka dengan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Melalui pelatihan bertema Among Desa: Digital Storytelling dan Artificial Intelligence untuk Mendukung Empat Pilar Keistimewaan DIY, para peserta dibekali kemampuan memanfaatkan AI secara kreatif dan bertanggung jawab.
Selama pelatihan, para pamong menghasilkan beragam karya berbasis AI, mulai dari infografis standar operasional pelayanan publik, materi promosi wisata, identitas visual desa, hingga konten digital yang mengangkat potensi budaya lokal. Kehadiran AI dinilai mampu mempercepat proses pembuatan materi komunikasi publik tanpa mengabaikan nilai-nilai dan karakter khas setiap kalurahan.
Ketua Program DESAI, Desideria Cempaka Wijaya Murti, menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus disertai literasi yang memadai agar hasil yang dihasilkan tetap akurat dan merepresentasikan budaya lokal. Karena itu, peserta juga dibimbing untuk menyusun perintah (prompt) yang tepat sehingga visual maupun informasi yang dihasilkan AI tidak menyimpang dari kondisi nyata di lapangan.
“Ada poster, SOP, Sosialisasi Kegiatan, Ikonisasi, Peta, itu semua untuk mendukung 4 Pilar Keistimewaan; Kelembagaan, Pertanahan, Kebudayaan dan Tata Ruang,” kata Desideria Cempaka Wijaya Murti, S.Sos., M.A., Ph.D selaku Ketua Pelaksana Program DESAI.
Melalui pelatihan dan pendampingan intensif, para peserta dibekali kemampuan menggunakan berbagai aplikasi berbasis AI untuk mendukung pekerjaan administrasi, penyusunan dokumen, pengelolaan informasi, hingga pelayanan kepada masyarakat. Hasilnya, puluhan karya berhasil diciptakan sebagai solusi atas berbagai kebutuhan di masing-masing kalurahan.
Program ini tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi, tetapi juga membangun budaya kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan digital. Para pamong diharapkan mampu memanfaatkan AI secara bijak, efektif, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan desa.
“Kegiatan ini sangat strategis karena pelatihan penggunaan AI bertujuan supaya menjadikan kelurahan itu adaptif terhadap tehnologi informasi ini bisa mempublikasikan 4 Pilar Keistimewaan Yogyakarta ,” kata Bimo Unggul Yudo selaku Pengamat Budaya.
Ke depan, Desa Adaptif AI diharapkan menjadi model pengembangan literasi digital bagi kalurahan lain di DIY. Dengan semakin banyak aparatur desa yang memahami dan memanfaatkan teknologi AI, pelayanan publik diharapkan menjadi lebih cepat, efisien, serta mampu menjawab tantangan transformasi digital yang terus berkembang.
