Memetri Kaistimewan 14 Tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY Akan Ditutup Di Teras Malioboro

​Memasuki perjalanan ke-14 tahun digulirkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY), Pemerintah Daerah DIY menggelar rangkaian peringatan dengan mengusung tajuk “Memetri Kaistimewan”. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, konsep kali ini menempatkan keistimewaan bukan sekadar seremoni perayaan, melainkan ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama merawat, menjaga, dan menghidupkan nilai-nilai luhur, kebudayaan, serta pengetahuan yang menjadi fondasi utama Yogyakarta.

​Dalam acara Media Gathering yang diselenggarakan di Omah Dhuwur Dining & Coffee, Yogyakarta, Kamis (11/9/2026) sore, dijelaskan bahwa peringatan tahun ini membawa tema luhur “Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad”. Tema tersebut menjadi pengingat mendalam bahwa keistimewaan pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Nilai keistimewaan DIY tidak boleh berhenti sebagai warisan sejarah semata, melainkan diwujudkan nyata melalui perilaku, karya bermanfaat, serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

​Rangkaian acara Memetri Kaistimewan sendiri telah diawali dengan pembukaan semarak di Lapangan Paseban, Bantul, pada Sabtu (15/8/2026). Untuk mendekatkan nilai keistimewaan kepada warga, pembukaan diisi dengan sajian pertunjukan seni tradisional seperti Jathilan dan Toneel Kaistimewan yang menggambarkan keberagaman wilayah di DIY. Selain itu, hadir pula kegiatan inklusif seperti senam lansia, pemanfaatan teknologi interaktif Virtual Reality (VR) Tata Ruang, hingga berbagai workshop edukatif meliputi belajar Bahasa Isyarat Indonesia, mewiru jarik, membuat dluwang, serta klinik aksara Jawa.

​Tak hanya mengusung aspek kebudayaan dan edukasi, acara pembukaan di Bantul juga menghadirkan pelayanan publik secara langsung kepada masyarakat. Berbagai stan layanan kependudukan, kesehatan, hingga literasi dibuka untuk umum. Keterlibatan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal turut menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi warga di sekitar lokasi acara, membuktikan bahwa agenda keistimewaan juga memberikan dampak ekonomi nyata.

​Sementara itu, Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY dilaksanakan di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, pada Senin (31/8/2026). Momentum puncak ini menjadi ruang refleksi bersama atas perjalanan 14 tahun keistimewaan DIY sekaligus menegaskan kembali tanggung jawab yang menyertainya. Pada kesempatan tersebut, digelar Kenduri Kaistimewan yang memadukan Kirab Budaya, Tari Ritual Memetri Kaistimewan, Umbul Donga, pemotongan tumpeng, hingga tradisi makan bersama Kembul Bujana yang mempererat kebersamaan warga.

​Sebagai penutup dari seluruh rangkaian, kegiatan diselesaikan di Teras Malioboro Beskalan pada Sabtu (12/9/2026). Penutupan diisi dengan workshop keterampilan tradisional serta panggung musik “Swaraning Kaistimewan” yang menampilkan ragam genre musik—mulai dari pop, keroncong, reggae, band religi, hingga musik karya penyandang disabilitas. Partisipasi seniman lintas generasi dan lintas wilayah se-DIY ini menegaskan bahwa keistimewaan Yogyakarta adalah ruang yang inklusif, ramah, dan merangkul semua golongan.

​Puncak penutupan ditandai secara simbolik melalui aksi membunyikan mainan tradisional otok-otok secara bersama-sama. Bunyi otok-otok tersebut menjadi penanda bahwa berakhirnya rangkaian acara bukan berarti berhentinya proses “memetri” atau merawat keistimewaan. Sebaliknya, semangat merawat keistimewaan harus terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh warga Yogyakarta.

​Pemerintah Daerah DIY menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan keistimewaan merupakan hasil kerja bersama dan kolaborasi lintas sektor. Pemda DIY menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Pemkab/Pemkot se-DIY, komunitas, pelaku UMKM, seniman, akademisi, insan media, hingga partisipasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang turut mendukung kelestarian nilai-nilai luhur Yogyakarta.

​Ke depan, implementasi UUK DIY diarahkan untuk semakin adaptif dan relevan dengan kebutuhan riil masyarakat. Kebudayaan akan terus berjalan beriringan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan ekonomi warga, pertanahan, tata ruang, serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Hal ini dilakukan demi memastikan Yogyakarta tetap berakar kuat pada budayanya sekaligus tangguh menjawab tantangan masa depan. 

You May Also Like