Pamong kalurahan bersama unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-DIY menggelar Kirab dalam rangka Mangayubagya Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-80 yang digelar hari Kamis (2/4) pagi sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa terima kasih masyarakat kepada pemimpin daerahnya.
“Sebagai gubernur sekaligus raja, bagaimana beliau menempatkan diri itu yang menjadi contoh bagi kami. Di usia ke-80 ini, kami ingin memberikan semangat serta penghargaan atas pengabdian beliau,” kata Gandang selaku Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY Nayantaka.
Kegiatan ini juga menjadi salah satu momen yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala keterlibatan kalurahan se-DIY. Partisipasi luas dari berbagai wilayah dinilai sebagai bentuk kebersamaan yang kuat antara pemerintah kalurahan dan masyarakat. Pamong kalurahan bersama masyarakat sowan dengan membawa hasil bumi atau potensi unggulan dari wilayah masing-masing.

“Tidak ada yang diwajibkan. Semua berdasarkan keikhlasan dan kemampuan masing-masing kalurahan. Apa yang dimiliki, itulah yang dibawa. Ini bagian dari rasa terima kasih kami. Sebagian kecil hasil dari pengelolaan tersebut kami kembalikan sebagai bentuk penghormatan,” lanjutnya.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 10.000 hingga 12.000 peserta dari 392 kalurahan di empat kabupaten serta Kota Yogyakarta. Para lurah dan pamong mengenakan pakaian adat Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.
Hasil bumi yang dibawa dalam kirab dipersembahkan untuk Sri Sultan HB X sebagai ungkapan syukur dan sekaligus simbol penghormatan. Hasil bumi tersebut kemudian kembali kepada masyarakat yang membutuhkan melalui pemerintah kabupaten/kota.
