Diskusi Komunikasi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) edisi ke-29 bertajuk “Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi” digelar Jumat (22/05/2026). Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan disiarkan langsung di kanal YouTube Departemen Ilmu Komunikasi UGM dengan menghadirkan Pratiwi Utami, Ph.D., selaku Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM, dan Siska Handiska Founder dan Creative Lead – SH Creative.
Berdasarkan data terakhir, terdapat 221 juta pengguna internet aktif, 139 juta pengguna media sosial, dan 60,4% konsumsi berita yang kini terjadi melalui platform media sosial (Data Reportal, 2024; Reuters Institute, 2024). Ekosistem komunikasi Indonesia kini secara fungsional bergantung pada infrastruktur Meta, Google, TikTok, dan ByteDance. Kondisi ini menjadi realitas operasional yang menentukan brief klien, struktur tim, hingga definisi keberhasilan sebuah kampanye.
Dalam rangka merespons kondisi tersebut, webinar kali ini membedah riset disertasi Janoe Arijanto berjudul “Preliminary Reflections on Platform Power and the Reconfiguration of Communication Entities in Indonesia”. Riset ini mengkaji bagaimana dominasi platform digital merestrukturisasi ekosistem komunikasi Indonesia, khususnya melalui pergeseran fungsi, batasan, dan otonomi entitas komunikasi seperti media, agensi iklan, kreator/influencer, dan institusi pemerintah. Beberapa temuan teoretis riset ini sangat relevan dengan realitas industri saat ini. Pergeseran nilai berita (News value) yakni isu dianggap ramai bukan karena isinya tetapi karena ramai dikunjungi (Visibility) diperbincangkan pada suatu platform.
“Algoritma ini bukannya membuat kita lebih tercerahkan, tetapi malah membuat konflik itu hitam putih, sehingga kehadiran kanal yang begitu banyak tidak meningkatkan kualitas informasi,” kata Dr. Wisnu Martha Adiputra, S.I.P., M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UGM.
Sebagai pemilik disertasi sekaligus praktisi agensi periklanan, Janoe memaparkan bagaimana kehidupan komunikasi kini telah diatur oleh algoritma media sosial. Ia menunjukkan bahwa elemen-elemen algoritma mulai dari personalisasi feed, data perilaku pengguna, riwayat klik dan tontonan, echo chamber, filter bubble, hingga bias AI dalam kurasi informasi telah menjadikan media hari ini layak disebut sebagai platformized newsroom.
Janoe juga mengungkapkan keresahannya atas media lokal yang kehilangan trafik bukan karena kalah bersaing sesama media, melainkan karena platform yang telah dirancang AI untuk menampilkan ringkasan artikel satu-dua paragraf sehingga audiens tidak perlu mengunjungi situs aslinya. Lebih lanjut, dampak ini tidak hanya dirasakan oleh media, tetapi oleh seluruh lembaga yang menyandarkan format komunikasinya pada platform.
Jika fenomena ini dilihat dari sudut pandang akademisi oleh Pratiwi Utami, Ph.D., dampak yang dirasakan ialah negara tidak lagi memiliki kekuasaan sebesar dulu dalam mengatur ruang publik akibat kehadiran platform. Padahal awalnya kemunculan media sosial ini dianggap sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Tetapi kelindan antara pengguna, platform, dan negara sebagai pembuat regulasi membuat dinamika sudah jauh berubah.
Selain itu Pratiwi juga memperkenalkan konsep Ekonomi Atensi sebagai inti persoalan. Platform memiliki praktik untuk mengatur perhatian publik ke arah konten yang paling memicu respons emosional karena paling menguntungkan secara ekonomi. Isu-isu konflik adalah yang paling menguntungkan karena banyak yang tertarik untuk membicarakannya, dan hal itu memberikan keuntungan bagi platform. Akibatnya, isu-isu penting yang menyangkut kepentingan publik justru kalah menarik audiens dibanding konten viral yang minim urgensi. Fenomena ini menciptakan paradoks yang di dalamnya semua orang bisa memproduksi konten, namun hanya sebagian yang mendapatkan peluang untuk didengar atau dilihat akibat filter algoritma.
Dalam konteks Indonesia, Pratiwi menyoroti fenomena unik buzzer yang berbeda dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dengan adanya buzzer memperkuat praktik kuasa algoritma semakin tajam, seleksi berita menjadi jauh lebih mudah dan murah bagi orang-orang yang memiliki agenda politik. Efeknya kita jadi mudah terpolarisasi, sehingga yang kita butuhkan ialah regulasi yang tidak sekadar berfokus pada takedown konten, melainkan menuntut akuntabilitas langsung dari platform.
“Jika di Asia Tenggara buzzer-nya dari Public Relations pemerintahnya maka Buzzer di Indonesia justru menjadi tenaga kerja baru,” tegasnya.
Perspektif praktis yang disampaikan oleh Siska Handiska yang sehari-hari bekerja di persimpangan antara kreativitas dan algoritma platform. Sebagai agensi yang telah berkolaborasi dengan beragam brand lintas industri, Siska memaparkan bagaimana platform telah berubah dari sekadar media menjadi ekosistem yang menentukan nasib sebuah konten.
“Yang paling terasa bagi kami sebagai praktisi adalah bagaimana algoritma ini memengaruhi cara kami bekerja, mulai dari ide kreativitas hingga menentukan apakah konten kami berhasil, semi berhasil, atau bahkan gagal,” tuturnya.
Jika dulu tim agensi cukup dengan desainer, copywriter, dan admin, kini muncul peran-peran baru seperti content strategist, scriptwriter, dan video editor yang diakibatkan oleh tuntutan logika platform. Maka tak heran, pada era modern ini permintaan klien banyak berbicara soal branding dan viewers. Namun di tengah semua tekanan itu, Siska menegaskan bahwa kreativitas manusia tetap memiliki ruang karena pada akhirnya, konten yang paling diingat bukan konten yang paling viral, tetapi yang paling terasa bagi audiens.
“Kita tidak bisa lepas dari platform, tetapi kita juga harus punya kontrol. Kita harus mengikuti tren, tetapi tetap harus punya karakter terhadap brand yang kita hadirkan,” ujarnya.
Dengan demikian rangkaian acara webinar terlaksana dengan baik, tampak dari banyaknya audiens yang bertanya kepada narasumber baik di kolom chat Zoom maupun live Youtube, sehingga hal ini membuktikan bahwa program rutin Diskusi Magister Ilmu Komunikasi sangat dibutuhkan sebagai wadah antara mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi, dalam mengamati fenomena komunikasi kontemporer. Hingga 2026, Diskoma telah menyelenggarakan 29 edisi diskusi dengan beragam tema strategis di bidang komunikasi yang harapannya bisa menigkatkan wawasan terkait perkembangan teknologi dan komunikasi.
Melalui Diskoma edisi ke-29 ini, para narasumber dan 76 peserta acara dari 2 platform yang hadir sepakat bahwa yang berubah hari ini bukan hanya alat komunikasi, tetapi bagaimana kebenaran ditentukan, diberi nilai, dan dilegitimasi. Dominasi platform digital menuntut adanya literasi komunikasi yang lebih kritis dari semua pihak: akademisi bertugas menjelaskan mekanismenya, praktisi menjaga integritas di tengah tekanan algoritmik, sementara publik dituntut untuk menuntut akuntabilitas dari platform maupun negara. Diperlukan pula strategi baru untuk membangun data pihak pertama dan diversifikasi saluran agar kedaulatan komunikasi nasional tidak sepenuhnya terikat pada kepentingan platform global.
