Amukredam Hadirkan Dua Lagu Baru, Potret Keresahan Di Tengah Dunia Yang Tak Baik-Baik Saja

Setelah cukup lama tidak merilis karya dalam format baru, Amukredam kembali muncul dari skena musik independen Jakarta dengan materi terbarunya. Band yang bergerak di wilayah screamo, skramz, dan post-hardcore ini memperkenalkan rilisan berisi dua lagu bertajuk “Flowers Bloom Over Burning City” dan “A Sigh At The End Of The World”. Kedua lagu tersebut mulai tersedia pada 28 Agustus 2026 melalui Bandcamp dan sejumlah layanan streaming digital.

Alih-alih sekadar menjadi kelanjutan katalog, dua lagu baru itu membawa materi yang berangkat dari kegelisahan terhadap keadaan sekitar. Amukredam menempatkan berbagai persoalan yang berlangsung di tingkat global maupun lokal sebagai latar, lalu mengolahnya menjadi musik yang sarat tekanan, keresahan, dan luapan emosi.

“Flowers Bloom Over Burning City” mengambil posisi yang lebih keras terhadap keadaan. Lagu ini menggambarkan situasi ketika aktivitas sehari-hari tetap berlangsung sementara berbagai persoalan terus muncul di sekeliling. Konflik, persoalan lingkungan, deforestasi, kebakaran hutan, kekerasan terhadap hewan hingga persoalan politik menjadi bagian dari keresahan yang mereka bawa melalui lagu tersebut.

Berbeda dengan lagu pertama, “A Sigh At The End Of The World” bergerak ke wilayah yang lebih intim. Lagu ini berbicara tentang kondisi ketika seseorang berada dalam titik kelelahan yang berat, tetapi belum benar-benar memilih untuk berhenti. Ada keberadaan orang-orang terdekat dan berbagai hal yang masih dianggap berarti sebagai alasan untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Kontras kedua lagu tersebut justru menjadi bagian penting dari rilisan terbaru Amukredam. Satu lagu mewakili dorongan untuk melawan dan menyuarakan kemarahan, sedangkan lagu lainnya memperlihatkan bagaimana seseorang mencoba bertahan ketika energi emosional hampir habis. Dengan demikian, rilisan ini tidak hanya berbicara tentang kondisi dunia, tetapi juga tentang respons manusia ketika berhadapan dengan keadaan yang sulit dikendalikan.

Rilisan dua lagu ini sekaligus menjadi penanda fase baru bagi Amukredam. Jarak sekitar lima tahun dari The Album yang dirilis pada 2021 membuat karya terbaru mereka hadir dalam konteks yang berbeda. Band ini menyebut materi barunya terasa lebih personal dan memiliki arah yang lebih jelas dibandingkan fase sebelumnya.

Secara musikal, Amukredam tetap mempertahankan karakter yang selama ini melekat pada mereka: permainan instrumen yang intens, vokal scream yang eksplosif, serta atmosfer yang bergerak antara agresivitas dan sisi emosional. Perjalanan mereka sendiri telah berlangsung sejak 2012 dan menghasilkan sejumlah rilisan, termasuk Raw Demo EP, The First EP, split EP bersama Individual Distortion, hingga The Album.

Saat ini Amukredam diperkuat Toro Elmar pada vokal dan gitar, Adtria Fachri Chaniago pada vokal dan gitar, Mardiansyah Odi pada bass dan vokal, serta PS Jati pada drum. Melalui dua lagu terbarunya, Amukredam kembali menjadikan musik bukan sekadar medium untuk meluapkan amarah, tetapi juga ruang untuk mencari alasan agar tetap bertahan di tengah berbagai hal yang terasa semakin berat.

You May Also Like