Mengenang rekam jejak, gagasan serta dimensi emosional Sang Proklamator, sebuah pameran seni rupa bertajuk “Mata Hati Soekarno” akan segera digelar untuk mengundang publik menyelami kembali esensi Presiden Pertama Republik Indonesia. Pameran yang dikuratori oleh kritikus dan kurator seni rupa ternama Suwarno Wisetrotomo ini mempertemukan ekspresi visual dari para perupa lintas generasi mulai dari angkatan 1970-an hingga 1990-an.
Tajuk ‘Mata Hati Soekarno’ dihasratkan bukan sekedar sebagai dokumentasi visual sejarah, melainkan sebuah penggalian mendalam atas sudut pandang, cara pandang dan cara ungkap spesifik para perupa dalam meresepsi sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia kontemporer. Memanfaatkan timbunam referensi sejarah yang kini kian mudah diakses, para perupa ditantang menghadirkan kembali figur multidimensional tersebut ke dalam medium seni visual seperti lukisan, grafis dan gambar.

Menurut kurator Suwarno Wisetrotomo, diksi ‘Mata Hati’ membidik dua aspek kritikal sekaligus. Pertama, untuk menyigi seberapa jauh dan dalam para perupa memahami Soekarno dalam konteksnya sebagai manusia, Proklamator, Presiden sekaligus inspirator bangsa. Yang kedua, untuk melihat seberapa tajam ‘Mata Hati’ perupa itu sendiri dalam memahami dan memaknai kedalam tema yang diusung.
“Soekarno, bersanding dengan tokoh tokoh besar lainnya seperti Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Kartini hingga Pramoedya Ananta Toer, merupakan ‘kitab’ tanpa tepi yang selalu menantang dan menggairahkan untuk dibaca serta dimaknai ulang. Melalui pameran ini, kita semua ditantang untuk keluar dari jebakan narasi sejarah yang klise,” kata Suwarno selaku Kurator Pameran.

Pameran ini membuka peluang interpretasi yang luas, tajam, dan sangat personal. Para seniman mengerahkan kepekaan batin mereka untuk menggali pengalaman emosional yang melintasi batas batas konvensional, mulai dari pengalaman akan kekaguman yang sublim, rasa duka yang mendalam atau melankolia dalam kacamata Sigmund Freud, rasa kehilangan, kerinduan hingga letupan gairah eksistensial dalam perspektif Jacques Lacan.
Hingga lebih dari setengah abad sepeninggalnya, Soekarno tetap menjadi sebuah nama, peristiwa dan gairah yang tak pernah selesai di’baca’. Pikiran, ucapan serta tindakannya terus mengalir menghidupi imajinasi kebangsaan. Terinspirasi dari bait puisi legendaris Chairil Anwar, ‘Persetujuan dengan Bung Karno’, di mana nyala api mencerminkan semangat dan laut adalah simbol kekuatan serta kerendahan hati, pameran ini hadir sebagai ikhtiar budaya untuk merawat dan mencintai Indonesia dalam situasi apapun.
Pameran ‘Mata Hati Soekarno’ dengan karya dari 47 perupa ini dibuka oleh Megawati Soekarnoputri pada tanggal 6 Juni 2026 dan pameran ini akan berlangsung hingga 6 Juli 2026 bertempat di Le Gareca Space, Padokan Baru B789, Kasihan, Bantul.
Photo doc @legareca_artgallery
